MEMBANGUN PUSAT KEBUDAYAAN ANGOLA DARI GEDUNG THEATRE MALANGE

BACKGROUND

Republik Angola merupakan salah satu dari tujuh negara besar di Afrika yang berbatasan dengan Namibia disebelah utara, berbatasan dengan Republik Demokratik Kongo disebelah Utara dan Timur, berbatasan dengan Zambia disebelah Timur dan Laut Atlantis disebelah Barat. Ibukota dari Angola adalah Luanda dengan jumlah penduduk 25,789,024 jiwa. Angola merupakan negara jajahan Portugis sejak abad 16 dan baru merdeka pada tahun 1975.  Malanje terletak 380 km dari Luanda dan merupakan salah satu propinsi dari Angola dengan jumlah populasi  222,000 jiwa. Setelah merdeka dari penjajahan Portugis, pada tahun 1975-2002 terjadi perang saudara yang mengakibatkan hancurnya Kota Malanje ini. Ketika perang saudara usai maka upaya perbaikan-perbaikan pun dilakukan.

Cafuta Empreendimentos merupakan salah satu perusahaan nasional Angola yang memiliki visi untuk membangun kembali kebudayaan Angola yang hampir punah. Cafuta memiliki banyak proyek-proyek besar di Angola, salah satunya adalah membangun theatre untuk menampilkan kesenian, kebudayaan dan kegiatan politik di gedung tersebut.

Pembangunan proyek ini memakan waktu lebih dari 2 tahun, proyek ini terkatung-katung dikarenakan terbatasnya sumber daya manusia untuk melanjutkan pembangunan. Proyek ini dikepalai oleh seorang Arsitek wanita asal Indonesia yang telah memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun di Angola. Ketika itu, beliau kembali ke Indonesia untuk mencoba mencari perusahaan akustik yang berkompeten untuk menyelesaikan pembangunan theatre di Angola. Pada saat itu tim Akustika Swara Indonesia yang ditemuinya dan berdiskusi mengenai kondisi proyek disana. Kami diminta berangkat ke Angola untuk mempresentasikan apa yang akan kami lakukan pada gedung theatre tersebut. Ada beberapa negara yang menjadi peserta tender saat itu, negara tersebut antara lain : Portugal, Brazil dan Cina.

Tim Akustika Swara Indonesia mempresentasikan dan membuat simulasi akustik pada bangunan tersebut. Semua tim penilai yang terdiri dari orang Angola asli dan orang Portugis mendengarkan dengan seksama apa yang kami paparkan mengenai akustik, kebisingan dan getaran.

Keputusan pun diambil oleh tim penilai untuk memilih peserta tender asal Indonesia untuk menggarap proyek theatre ini yaitu Akustika Swara Indonesia.

THE CHALLENGE

Dengan begitu banyak kebudayaan yang dimiliki oleh Negara Angola, diperlukan suatu ruang yang dapat menampilkan kebudayaan-kebudayaan yang mereka miliki untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Chief Executive Officer yaitu Antonió João Pinto mengatakan bahwa “Kita memerlukan ruang yang dapat mengakomodir baik untuk penampilan kesenian, pidato, kegiatan politik dan pemutaran film. Cara mempertahankan kebudayaan suatu bangsa yang baik dimulai dari bagaimana kita memperkenalkannya kepada bangsa sendiri.” Selain itu alasan utama pembangunan gedung theatre ini bertujuan untuk menjadi gedung theatre terbaik di Angola. Semua kegiatan kesenian, pidato, musik dan pemutaran film harus dapat diakomodir dengan baik dan memiliki tingkat kejelasan yang tinggi.

THE SOLUTION

Untuk membangun keseluruhan sistem yang digunakan pada Theatre terdapat beberapa perusahaan yang terlibat didalamnya. Beberapa perusahaan tersebut adalah Videovisão Electrónica, Lda. yang menangani sistem  audio, visual dan tata cahaya, Soclima yang menangani perangkat sistem HVAC, Golden Chair yang menangani kursi theatre dan beberapa perusahaan cina yang menangani pekerjaan sipilnya. Akustika Swara Indonesia sebagai perusahaan akustik Indonesia yang bertanggung jawab untuk pembuatan noise control dan acoustic control pada gedung theatre tersebut. Pekerjaan noise control dan acoustic control tidak lepas dari peran masing-masing perusahaan tersebut agar terlaksananya suatu sistem yang baik. Akustika Swara Indonesia memiliki peran central didalam pembangunan theatre ini sebagai leader untuk mengarahkan detail konstruksi. Semua tim bekerjasama mulai dari tahap perencanaan, perancangan hingga pembangunan.

Kami fokus terhadap detail-detail konstruksi yang dikerjakan, seperti : bagaimana membangun noise barrier dan acoustic control yang mumpuni agar sesuai dengan kebutuhannya, bagaimana instalasi perangkat mekanikal-elektrikal agar tidak merusak noise barrier, ketinggian dan jarak kursi penonton, pemasangan seal pada pintu, penutupan celah-celah kecil pada konstruksi dan berbagai hal detail lainnya. Pengawasan berkala terhadap pekerjaan konstruksi dilakukan untuk memastikan bahwa pekerjaan sesuai dengan rencana awal.

Langkah terakhir adalah kami melakukan test waktu dengung dan mengukur latar kebisingan pada gedung theatre tersebut. Proses pengukuran dilakukan dalam keadaan ruang kosong ( unoccupied ) dan seluruh perangkat mekanikal elektrikal dinyalakan dalam keadaan seperti operasional. Bunyi apapun yang terdengar didalam ruangan tersebut dapat ditangkap dengan alat ukur yang digunakan dengan sangat responsif. Pengukuran waktu dengung dilakukan pada beberapa titik pendengar dan pengukuran latar kebisingan dilakukan ditengah ruangan

THE RESULTS

Dari hasil pengukuran waktu dengung didalam gedung theatre tersebut adalah T20 = 1.06s. Jika nilai waktu dengung mengacu kepada tabel recommended reverberation time ( Walker, Christensen, & Hoeg, 1997, p.41 ) maka waktu dengung yang direkomendasikan adalah 1.1s. Dari nilai rekomendasi dan hasil pengukuran langsung dilapangan hanya terpaut 0.04s lebih rendah dibandingkan waktu dengung yang direkomendasikan. Selisih nilai tersebut masih dapat diterima sebagai nilai deviasi yang wajar.

Selain itu nilai yang dicapai pada gedung ini adalah NC25. Jika mengacu kepada kepada tabel NC dengan kategori ruangan assembly hall, maka nilai NC yang direkomendasikan adalah NC25 – NC30. Dengan demikian gedung ini telah mencapai performa akustik yang optimum.